Sambutan/Welcome

Welcome To ilmupastisaja.blogspot.com

Cursor

Free Lines Arrow

Jumat, 24 Juni 2011

2 Kalimat Indonesia Yang Mendunia Saat ini

Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kita sebagai Bangsa Indonesia untuk mewujudkan Bahasa Indonesia menjadi salah satu Bahasa Internasional. Saat ini ada dua kalimat Bahasa Indonesia yang popular di Mancanegara pada bidang otomotif terutama motor.

Bagi anda yang mempunyai kegemaran Otomotif tentu telah mengetahui 2 kalimat tersebut. Ya Benar , 2 kalimat tersebut merupakan "Jargon" dari 2 merek produser motor terbesar di tanah Air, yaitu
Yamaha dan Honda.

Yamaha dengan
"Semakin di depan" dan Honda "Satu Hati" nya. 2 Kalimat tersebut sekarang juga menjadi "Jargon" dengan kedua Tim "Raksasa" pada perhelakan Event Internasional "MotoGP".

Ini Suatu Kebanggaan bagi kita Bangsa Indonesia, walau hanya beberapa patah kata, tetapi Bahasa Indonesia mendapat tempat di hati penggemar olahraga sport ini, Terbukti dua season race MotoGp Qatar dan Jerez, pasti ada sekumpulan penonton yang membawa dan mengibar-ngibarkan bendera Yamaha "Semakin di Depan" dan Honda "One Heart / Satu Hati", Siapa yang membawanya ?, ya mungkin ada orang Indonesia juga, tetapi ada juga para penonton eropa juga membawa bendera dukungan tersebut.

Ini sebuah langkah yang tepat untuk mempromosikan Bahasa Indonesia, jika tahun kemarin hanya Yamaha yang menggunakan "Jargon" Berbahasa Indonesia, saat ini Honda juga telah menggunakan "Jargon" berbahasa Indonesia. Menurut pendapat saya hal ini harus mendapat Apresiasi lebih dari kita semua, Jika tahun kemarin "Semakin Di Depan" telah mendunia lewat "Jargon" Tim Yamaha Factory semoga tahun ini "Satu Hati" juga akan mendunia lewat "Repsol Honda" Memang sih bukan kali ini saja kalimat dan kata dalam Bahasa Indonesia digunakan dalam event dunia, tetapi "Semakin di Depan" dan "Satu Hati" berbeda karena kalimat ini memang mewakili Bahasa Indonesia, bukan Merek produksi Indonesia, seperti Pertamina, Djarum, Sampoerna atau yang lainnya yang merupakan Merek Produk.

Bawang Merah Bawang Putih

Bawang Merah Bawang Putih adalah dongeng populer Melayu Indonesia yang berasal dari Riau, Sumatera. Kisah ini bercerita mengenai dua orang gadis cantik kakak beradik yang memiliki sifat dan perangai sangat berbeda lagi bertolak belakang, serta mengenai seorang ibu tiri yang tidak adil dan pilih kasih. Dongeng ini memiliki tema dan pesan moral yang hampir sama dengan dongeng Cinderella dari Eropa. 

Jalan cerita

Alkisah di sebuah kampung, hiduplah seorang janda yang memiliki dua orang anak gadis yang cantik, Bawang Merah dan Bawang Putih. Ayah kandung Bawang Putih telah lama meninggal dunia. Bawang Merah dan Bawang Putih memiliki sifat dan perangai yang sangat berbeda dan bertolak belakang. Bawang Putih adalah gadis sederhana yang rendah hati, tekun, rajin, jujur dan baik hati. Sementara Bawang Merah adalah seorang gadis yang malas, sombong, suka bermewah-mewah, tamak dan pendengki. Sifat buruk Bawang Merah kian menjadi-jadi akibat ibunya selalu memanjakannya. Sang janda selalu memenuhi semua permintaan dan tuntutan Bawang Merah. Selain itu semua pekerjaan di rumah selalu dilimpahkan kepada Bawang Putih. Mulai dari mencuci pakaian, memasak, membersihkan rumah, hampir semua pekerjaan rumah selalu dikerjakan oleh Bawang Putih seorang diri, sementara Bawang Merah dan Ibu Tiri selalu berdandan dan bermalas-malasan. Jika mereka memerlukan sesuatu, tinggal menyuruh-nyuruh Bawang Putih.
Bawang Putih tak pernah sekalipun mengeluhkan nasib buruknya. Ia selalu siap sedia melayani sang Ibu Tiri dan Saudari Tirinya dengan senang hati. Pada suatu hari Bawang Putih tengah mengerjakan pekerjaan rumah mencuci pakaian milik Ibu Tiri dan Saudari Tirinya. Akan tetapi Bawang Putih tak menyadari bahwa sehelai kain milik Ibu Tirinya telah hanyut terbawa arus sungai. Ketika Bawang Putih menyadarinya, ia sangat sedih dan takut bila diketahui hilangnya kain itu, maka ia akan dimarahi dan disalahkan oleh Ibu Tirinya. Bukan mustahil bahwa Bawang Putih akan dihukum bahkan diusir dari rumahnya.
Khawatir kehilangan kain tersebut, Bawang Putih dengan gigih dan tekun tetap mencarinya sambil berjalan menyusuri sepanjang sungai yang berarus deras itu. Tiap kali bertemu seseorang di sungai ia selalu menanyakan apakah mereka melihat kain tersebut. Sayang sekali tak seorangpun yang melihat dimana kain hanyut itu berada. Hingga pada akhirnya Bawang Putih tiba di bagian sungai yang mengalir ke dalam gua. Ia sangat terkejut ketika mengetahui ada seorang nenek tua yang tinggal di dalam gua tersebut. Bawang Putih menanyai nenek tua itu mengenai keberadaan kain Ibu Tirinya. Nenek tua itu mengetahui dimana kain itu berada, akan tetapi ia mengajukan syarat bahwa Bawang Putih harus membantu pekerjaan sang nenek tua. Karena telah terbiasa bekerja keras, dengan senang hati Bawang Putih menyanggupi untuk membantu sang nenek merapikan dan membersihkan gua tersebut. Nenek tua itu sangat puas dengan hasil pekerjaan Bawang Putih. Pada sore harinya Bawang Putih berpamitan kepada sang nenek. Sang nenek itu kemudian mengembalikan kain milik Ibu Tiri Bawang Putih yang hanyut di sungai, seraya menawarkan kepada Bawang Putih dua buah labu sebagai hadiah atas pekerjaannya. Dua buah labu itu berbeda ukuran, satu besar dan yang lainnya kecil. Karena Bawang Putih tidak serakah dan tamak, ia memilih labu yang lebih kecil.
Ketika kembali ke rumah, sang Ibu Tiri dan Saudari Tirinya amat marah karena Bawang Putih terlambat pulang. Bawang Putih pun menceritakan apa yang telah terjadi. Ibu Tiri yang tetap marah karena Bawang Putih hanya membawa sebutir labu kecil, ia kemudian merebutnya dan membanting buah itu ke tanah. "Prak..." pecahlah labu itu, akan tetapi terjadi suatu keajaiban, di dalam labu itu terdapat perhiasan emas, intan, dan permata. Mereka semua terkejut dibuatnya. Akan tetapi karena Ibu Tiri dan Bawang Merah adalah orang yang tamak, mereka tetap memarahi Bawang Putih karena membawa labu yang lebih kecil. Jika saja Bawang Putih memilih buah yang lebih besar, tentu akan lebih banyak lagi emas, intan, dan permata yang mereka dapatkan.
Karena sifat serakah dan tamak, Bawang Merah berusaha mengikuti apa yang dilakukan Bawang Putih. Dengan sengaja ia menghanyutkan kain milik ibunya, kemudian berjalan mengikuti arus sungai dan menanyai orang-orang yang ia temui. Akhirnya Bawang Merah tiba di gua tempat nenek itu tinggal. Tidak seperti Bawang Putih, Bawang Merah yang malas menolak membantu nenek itu. Ia bahkan dengan sombongnya memerintahkan nenek tua itu untuk menyerahkan labu besar itu. Maka nenek tua itu pun memberikan labu besar itu kepada Bawang Merah.
Dengan riang dan gembira Bawang Merah membawa pulang labu besar pemberian nenek tua itu. Telah terbayang dalam benaknya betapa banyak perhiasan, intan, dan permata yang akan ia miliki. Sang Ibu Tiri pun dengan gembira menyambut kepulangan putri kesayangannya itu. Tak sabar lagi mereka berdua memecahkan labu besar itu. Akan tetapi apakah yang terjadi? Bukannya perhiasan yang didapat, dari dalam labu itu keluar berbagai macam ular dan hewan berbisa. Mereka berdua lari ketakutan. Baik Ibu Tiri maupun Bawang Merah akhirnya menyadari sifat buruk dan ketamakan mereka. Mereka menyesali bahwa selama ini telah berbuat buruk kepada Bawang Putih dan memohon maaf pada Bawang Putih. Bawang Putih yang baik hati pun memaafkan mereka berdua.

Megalitik Pasemah

Megalitik Pasemah adalah peninggalan tradisi budaya megalitik di daerah Pasemah (Sumatera Selatan). Megalitik di wilayah Pasemah muncul dengan bentuk yang unik, langka, dan mengandung unsur kemegahan serta keagungan yang terwujud dalam bentuk-bentuk yang sangat monumental. Simbol-simbol yang ingin disampaikan oleh pemahat erat kaitannya dengan pesan-pesan religius.

Budaya megalitik Pasemah mulai diteliti pertama kali dan ditulis oleh L. Ullmann dalam artikelnya Hindoe-belden in binnenlanden van Palembang yang dimuat oleh Indich Archief (1850). Dalam tulisan Ullmann tersebut H. Loffs menyimpulkan bahwa arca-arca tersebut merupakan peninggalan dari masa Hindu. namun pendapat ini ditentang oleh Van der Hoop pada tahun 1932, ia menyatakan bahwa peninggalan tersebut dari masa yang lebih tua. Setelah penelitian Van der Hoop, penelitian tentang megalitik Pasemah dilanjutkan oleh peneliti-peneliti arkeologi, seperti R.P. Soejono, Teguh Asmar, Haris Sukendar, Bagyo Prasetyo, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan peneliti dari Balai Arkeologi Palembang secara intensif melakukan penelitian di wilayah Pasemah sampai saat ini.

Penampilan peninggalan budaya megalitik Pasemah sangat "sophiscated" dengan tampilnya pahatan-pahatan yang begitu maju, dan digambarkan alat-alat yang dibuat dari perunggu memberikan tanda bahwa megalitik Pasemah telah berkembang dalam arus globalisasi (pertukaran) budaya yang pesat. Alat-alat perunggu yang dipahat adalah nekara yang merupakan kebudayaan Dongson, Vietnam. Temuan peninggalan megalitik di pasemah begitu banyak variasinya, berdasarkan survei yang dilakukan peneliti Balai Arkeologi Palembang, Budi Wiyana telah menemukan 19 situs megalitik baik yang tersebar secara mengelompok maupun sendiri (1996).

Keadaan lingkungan wilayah Pasemah


Daerah Pasemah yang pernah diteliti oleh Van der Hoop, Tombrink, Westenek, Ullman, dan peneliti lainnya, daerah ini mudah dicapai dari kota-kota besar di sekitarnya, baik dari Jambi, Lubuklinggau, Palembang, dan lain-lain, karena tersedia jalan besar yang menghubungkan Pasemah dengan kota-kota besar di sekitarnya. Situs-situs megalitik dataran tinggi Pasemah meliputi daerah yang sangat luas mencapai 80 km². Situs-situs megalitik tersebar di dataran tinggi, puncak gunung, lereng, dan lembah. Situs Tinggihari, Situs Tanjungsirih, Situs Gunungkaya merupakan situs yang terletak di atas bukit, sementara Situs Belumai, Situs Tanjungarau dan Situs Tegurwangi merupakan situs-situs yang terletak di lembah. Dari hasil penelitian Fadlan S. Intan diketahui bahwa daerah Lahat dibagi atas tiga satuan morfologi (bentang alam), yaitu:

  1. satuan morfologi pegunungan
  2. satuan morfologi bergelombang
  3. satuan morfologi dataran

Satuan morfologi pegunungan dengan puncak-puncaknya antara lain Gunung Dempo (3159 mdpl) dan pegunungan Dumai (1700 mdpl). Satuan morfologi bergelombang ketinggian puncaknya mencapai 250 mdpl, lereng umumnya landai, dengan sungai berlembah dan berkeolok-kelok. Satuan morfologi dataran dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Satuan morfologi pegunungan merupakan tempat tersedianya bahan hasil letusan Gunung Dempo yang menyebarkan lahar dan lava serta batuan-batuan vulkanis. Daerah Lahat dengan batuan-batuan beku andesitnya telah dipilih menjadi tempat pemukiman. Pemilihan ini tampaknya mempunyai pertimbangan-pertimbangan geografis dan tersedianya batuan untuk megalitik. Keadaan lingkungan di Pasemah merupakan daerah yang sangat subur yang memungkinkan penduduk di sana dapat membudidayakan tanaman.

Temuan Wonosobo

Temuan Wonoboyo adalah sebuah penemuan arkeologi penting berupa artefak emas dan perak yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 era Kerajaan Medang (Kerajaan Mataram Kuno), Jawa Tengah, Indonesia. Peninggalan bersejarah ini ditemukan pada 17 Oktober 1990 di dusun Plosokuning, desa Wonoboyo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tak jauh dari kompleks Candi Prambanan.

Penemuan


 Pada tanggal 17 Oktober, sebidang lahan sawah milik Ny. Cipto Suwarno tengah digali oleh Witomoharjo dan lima orang rekan kerja lainnya. Pengalian ini dimaksudkan sebagai proyek irigasi untuk merendahkan permukaan sawah agar air dapat turun ke sawah ini, sementara itu tanah sisa galiannya akan dijual untuk tanah urukan proyek. Ketika penggalian mencapai kedalaman 2,5 meter, cangkul Witomoharjo membentur benda keras yang diduga batu. Setelah digali dengan hati-hati ternyata ditemukan sebuah guci besar keramik China yang didalamnya tersimpan banyak artefak emas. Penemuan ini segera disampaikan kepada aparat desa dan akhirnya berita penemuan ini sampai kepada Ditjen Pendidikan dan Kebudayaan.

Harta karun

Berat total harta karun ini adalah is 16,9 kilogram yang terdiri dari 14,9 kilogram emas dan 2 kilogram perak. Temuan ini terdiri dari:
  • Sebuah bokor gembung berukir adegan Ramayana
  • Sebuah baskom berukir adegan Ramayana
  • 6 tutup bokor
  • 3 gayung
  • Sebuah baki
  • 97 gelang
  • 22 mangkuk kecil
  • Sebuah pipa rokok
  • Sebuah guci besar Dinasti Tang sebagai wadah 
  • 2 buah guci kecil
  • 11 cincin emas
  • 7 piring
  • 8 subang emas
  • Sebuah tas tangan dari emas
  • Sebuah gagang keris atau mungkin hiasan pucuk payung dari emas
  • Manik-manik
  • Beberapa uang logam emas berbentuk seperti biji jagung
Kini temuan Wonoboyo disimpan di ruang khazanah Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Sementara replikanya dipamerkan di Museum Prambanan, kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta. Temuan Wonoboyo pernah dipamerkan di Australia. Temuan Wonoboyo adalah salah satu temuan arkeologi terpenting di Indonesia. Selain nilai tinggi logam mulia emas dan perak, temuan ini juga penting untuk mengungkapkan kekayaan, ekonomi, serta pencapaian seni budaya pada masa Kerajaan Medang di abad ke-9. Temuan emas ini menampilkan kesenian yang halus serta memamerkan keahlian teknik dan pencapaian estetika pandai emas Jawa kuno. Pada permukaan koin emas terukir huruf "ta", singkatan dari "tail" atau "tahil" unit mata uang Jawa kuno. Ditemukan juga tulisan "Saragi Diah Bunga" dalam bahasa Kawi, yang mungkin adalah nama pemiliknya. Temuan ini diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Raja Balitung (899–911). Benda mewah seperti ini diduga milik bangsawan atau anggota keluarga raja.

Kamis, 23 Juni 2011

Midas, Raja dalam Mitologi Yunani

Midas (bahasa Yunani: Μίδας) adalah salah seorang raja dalam mitologi Yunani. Dia adalah figur yang terkenal karena kemampuannya untuk mengubah semua yang ia sentuh menjadi emas. Kemampuannya disebut sebagai sentuhan Emas atau sentuhan Midas. Dalam alkimia, transmutasi benda menjadi emas disebut chrysopoeia. Dia memiliki beberapa kemiripan dengan Mita, raja Mushki di Anatolia Barat pada akhir abad kedelapan SM.

Silsilah

 Ada beberapa versi berbeda mengenai kehidupan Midas. Dalam salah satunya, Midas adalah seorang raja di Pessinos, satu kota di Frigia. Ketika masih kanak-kanak, dia diadopsi oleh raja Gordias dan dewi Kibele. Menurut beberapa pendapat, Kibele memang ibu Midas. Beebrapa pendapat menceritakan Midas menjalani masa muda di Bermion, Makedonia. Di Mygdonia, Thrakia, Midas terkenal akan kebun mawarnya. Di kebun ini, menurut orang Makedonia, Silenos ditangkap. Menurut Homeros, Midas memiliki seorang putra bernama Litierses, namun dalam versi lainnya dia memiliki seorang putri bernama Zoi. Arrian memberi cerita alternatif mengenai kehidupan Midas. Menurutnya, Midas adalah putra Gordios, seorang petani miskin, dan seorang perempuan Telmissos. Ketika Midas tumbuh dewasa, rakyat Frigia sedang menderita perang saudara. Menurut orakel, akan datang sebuah kereta yang membawa raja yang akan mengakhiri perselisihan di antara rakyat Frigia. Ketika mereka sedang membahasnya, Midas tiba mengendarai kereta bersama orang tuanya. Rakyat Frigia merasa bahwa Midas adalah orang yang dimaksud oleh orakel. Midas pun diangkat menjadi raja Frigia. Sesuai ramalan, Midas berhasil mengakhiri perselisihan di antara bangsa Frigia. Midas juga menyimpan kereta ayahnya di kuil sebagai rasa syukur pada Zeus. Menurut legenda, siapapun yang bisa melepas ikatan pada kereta tersebut akan menjadi penguasa Asia. Di kemudian hari, Aleksander Agung berhasil melepas ikatan tersebut.

Dalam Mitologi

Sentuhan emas

Suatu hari, dewa Bacchus menyadari bahwa gurunya, Silenos, telah menghilang. Silenos adalah seorang satir yang sudah tua. Dia mabuk dan berjalan tak tentu arah, sampai akhirnya Silenos ditemukan oleh sekumpulan petani Frigia, yang membawanya pada raja Midas. Dalam versi lainnya, Silenos lewat di depan kebun mawar Midas. Ada juga pendapat bahwa Midas dengan sengaja menangkap Silenos secara diam-diam. Midas mengenali Silenos dan menjamunya dengan ramah. Midas memberi hiburan pada Silenos selama sepuluh hari sembilan malam. Dan Silenos mengibur Midas dan teman-temannya dengan cerita dan lagu.
Pada hari kesebelas, Midas membawa Silenos kembali pada Bacchus di Lydia. Atas kebaikannya, Bacchus pun memberikan Midas satu permintaan. Midas meminta supaya semua yang disentuhnya menjadi emas. Bacchus mengabulkan permintaan Midas.
Midas sangat senang dengan kemampuan barunya. Dia menyentuh pohon dan batu, yang langsung berubah menjadi emas. Dia lalu pulang ke istananya untuk makan. Namun makanan dan minumannya pun berubah menjadi emas akibat sentuhannya. Bahkan anak perempuannya dia sentuh dan berubah menjadi emas.
Kini Midas menyesali kemampuannya itu. Dia berdoa pada Bacchus untuk menghilangkan kemampuannya dan menjadikannya seperti semula. Bacchus mendengar doanya dan menyuruh Midas untuk mencuci tangannya di sungai Paktolos.
Midas menuruti kata-kata Bacchus, dan begitu tangannya menyentuh air, kekuatannya ikut terbawa oleh aliran air. Tangan Midas kembali normal dan pasir sungai Paktolos menjadi berwarna emas. Mitos ini menjelaskan mengapa sungai Paktolos kaya akan emas. Dinasti kaya yang mengklaim Midas sebagai leluhurnya juga menggunakan mitos ini untuk menjelaskan asal-usul kekayaannya. Emas kemungkinan bukan satu-satunya sumber kekayaan Midas. Dia juga dipercaya menemukan timah putih dan hitam. 

Telinga keledai


Midas, yang kini kaya raya, menjadi pengikut Pan, satir dan dewa hutan. Ada pendapat bahwa Midas juga memiliki darah satir dalam tubuhnya. Beberapa mitografer Romawi menyatakan bahwa guru musiknya adalah Orfeus. Suatu hari, Pan berani menyamakan kemampuan musiknya dengan Apollo, dewa musik. Pan menantang Apollo dalam sebuah kontes musik. Tmolos, dewa gunung, ditunjuk sebagai jurinya. Kontes dimulai, dan Pan meniup pipanya dengan melodi pedesaan yang memukau dirinya sendiri serta para pengikutnya, termasuk Midas, yang juga menyaksikan kontes tersebut.

Kemudian tiba giliran Apollo. Sang dewa memetik senar-senar pada liranya dan membuai para pendengar dengan musik yang mengagumkan. Tmolos langsung menyatakan Apollo sebagai pemenangnya. Semua yang hadir setuju dengan keputusan tersebut, kecuali satu orang, yaitu Midas. Midas tidak terima dengan keputusan tersebut dan memprotes jurinya.
Apollo marah atas protes Midas dan menghukumnya. Apollo mengubah telinganya menjadi telinga keledai. Mitos ini digambarkan dalam dua lukisan, "Apollo and Marsyas" oleh Palma il Giovane (1544–1628), masing-masing menggambarkan kejadian sebelum dan sesudah hukuman tersebut. Midas merasa sangat malu atas perubahan telinganya. Dia mencoba menyembuyikan telinga keledainya dengan cara memakai turban atau tutup kepala yang besar. Namun suatu hari Midas cukur rambut sehingga tukang cukurnya mengetahui bahwa rajanya memiliki telinga keledai. Midas menyuruh tukang cukur itu untuk tutup mulut dengan ancaman hukuman. Akan tetapi, sang tukang cukur tetap tak bisa menjaga rahasia itu. Dia menggali tanah, membisikkan rahasia telinga Midas ke dalam lubang itu, dan menutupnya lagi. Lama-kelamaan, tumbuhan muncul di atas tanah tersebut dan mulai menyebarkan suara yang berbunyi, "Raja Midas memiliki telinga keledai". Sarah Morris menyatakan bahwa telinga keledai merupakan atribut Zaman Perunggu. Telinga keledai terlihat dipakai oleh raja King Tarkondemos di Mira, seperti diperlihatkan dalam tulisan Hittite dan hieroglif Luwian: dalam keterkaitan ini, mitos tersebut muncul di bangsa Yunani untuk memebenarkan atribut yang eksotis ini. Dalam legenda pra-Islam di Asia Tengah, raja Ossounes di sungai Yenisei memiliki telinga keledai. Dia berusaha menyembunyikan telinganya dan memerintahkan setiap tukang cukurnya dibunuh. Namun ada satu tukang cukur yang sempat membisikkan rahasia sang raja pada sebuah tembok setelah matahari terbenam. Dia tidak menutup tembok itu setelahnya. Air sumur naik dan membanjiri kerajaan, menciptakan Danau Issyk-Kul.


Rabu, 08 Juni 2011

Maaf yang sebesar2nya

Mohon maaf sebesar2nya buat para Kawan2 setia IPS , karena banyaknya kesibukan saya jadi saya tidak ada waktu untuk mengupdate blog ini , mulai besok blog ini akan aktif kembali seperti dulu lagi trimakasih :)

Minggu, 29 Mei 2011

TIPS MENGGOSOK GIGI BAYI

Bagi anda ibu yang baru punya anak bayi, mungkin belum terlalu mengetahui cara menggosok gigi bayi anda, namun jika usia bayi anda sudah berusia 4 bulan, maka anda harus mulai mengetahui tips untuk menggosok gigi anak anda, karena pada usia iulah gigi bayi anda mulai tumbuh. Meski hanya dinamakan gigi susu yang masih baru, tetapi tetap diperlukan perawatan untuk menjaga gigi tetap sehat.



http://faktabukanopini.blogspot.com/

Berikut ini Tips aman mudah menggosok gigi si buah hati :

1. 0-6 Bulan. Usap gigi dan gusi dengan kain kasa steril atau kapas yang dibasahi air matang hangat. Usap secara perlahan agar gusi anak anda tidak lecet.
2. 6-12 Bulan. Inilah saatnya bayi memiliki sikat gigi pertamnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: berikan sikat gigi yang sangat lembut, sikat gigi bayi tanpa pasta gigi sedikitnya sekali sehari. Saat mandi, biarkan anak bermain dengan sikat giginya, untuk lebih membuatnya akrab dengan benda itu.

3. 12-24 Bulan. Pada usia ini, anak sudah bisa belajar menyikat gigi sendiri namun dengan bantuan. Tunggulah hingga ia bisa meludah atau berkumur sebelum memakai pasta gigi khusus anak. Berikan pasta gigi itu sedikit saja, kira-kira sebesar biji kacang polong. Lakukan minimal 2 kali sehari, sehabis sarapan dan sebelum tidur.

4. Di atas 24 Bulan. Kini anak sudah bisa menyikat gigi sendiri, namun tetap dalam pengawasan. Berikan pasta gigi itu sedikit saja. Lakukan minimal dua kali sehari, sehabis sarapan dan sebelum tidur.

Itulah tips aman dan udah untuk menggook gigi bayi anda, semoga bisa bermanfaat untuk anda terutama para ibu yang baru saja punya anak yang giginya baru tumbuh.