Sambutan/Welcome

Welcome To ilmupastisaja.blogspot.com

Cursor

Free Lines Arrow
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2011

Megalitik Pasemah

Megalitik Pasemah adalah peninggalan tradisi budaya megalitik di daerah Pasemah (Sumatera Selatan). Megalitik di wilayah Pasemah muncul dengan bentuk yang unik, langka, dan mengandung unsur kemegahan serta keagungan yang terwujud dalam bentuk-bentuk yang sangat monumental. Simbol-simbol yang ingin disampaikan oleh pemahat erat kaitannya dengan pesan-pesan religius.

Budaya megalitik Pasemah mulai diteliti pertama kali dan ditulis oleh L. Ullmann dalam artikelnya Hindoe-belden in binnenlanden van Palembang yang dimuat oleh Indich Archief (1850). Dalam tulisan Ullmann tersebut H. Loffs menyimpulkan bahwa arca-arca tersebut merupakan peninggalan dari masa Hindu. namun pendapat ini ditentang oleh Van der Hoop pada tahun 1932, ia menyatakan bahwa peninggalan tersebut dari masa yang lebih tua. Setelah penelitian Van der Hoop, penelitian tentang megalitik Pasemah dilanjutkan oleh peneliti-peneliti arkeologi, seperti R.P. Soejono, Teguh Asmar, Haris Sukendar, Bagyo Prasetyo, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan peneliti dari Balai Arkeologi Palembang secara intensif melakukan penelitian di wilayah Pasemah sampai saat ini.

Penampilan peninggalan budaya megalitik Pasemah sangat "sophiscated" dengan tampilnya pahatan-pahatan yang begitu maju, dan digambarkan alat-alat yang dibuat dari perunggu memberikan tanda bahwa megalitik Pasemah telah berkembang dalam arus globalisasi (pertukaran) budaya yang pesat. Alat-alat perunggu yang dipahat adalah nekara yang merupakan kebudayaan Dongson, Vietnam. Temuan peninggalan megalitik di pasemah begitu banyak variasinya, berdasarkan survei yang dilakukan peneliti Balai Arkeologi Palembang, Budi Wiyana telah menemukan 19 situs megalitik baik yang tersebar secara mengelompok maupun sendiri (1996).

Keadaan lingkungan wilayah Pasemah


Daerah Pasemah yang pernah diteliti oleh Van der Hoop, Tombrink, Westenek, Ullman, dan peneliti lainnya, daerah ini mudah dicapai dari kota-kota besar di sekitarnya, baik dari Jambi, Lubuklinggau, Palembang, dan lain-lain, karena tersedia jalan besar yang menghubungkan Pasemah dengan kota-kota besar di sekitarnya. Situs-situs megalitik dataran tinggi Pasemah meliputi daerah yang sangat luas mencapai 80 km². Situs-situs megalitik tersebar di dataran tinggi, puncak gunung, lereng, dan lembah. Situs Tinggihari, Situs Tanjungsirih, Situs Gunungkaya merupakan situs yang terletak di atas bukit, sementara Situs Belumai, Situs Tanjungarau dan Situs Tegurwangi merupakan situs-situs yang terletak di lembah. Dari hasil penelitian Fadlan S. Intan diketahui bahwa daerah Lahat dibagi atas tiga satuan morfologi (bentang alam), yaitu:

  1. satuan morfologi pegunungan
  2. satuan morfologi bergelombang
  3. satuan morfologi dataran

Satuan morfologi pegunungan dengan puncak-puncaknya antara lain Gunung Dempo (3159 mdpl) dan pegunungan Dumai (1700 mdpl). Satuan morfologi bergelombang ketinggian puncaknya mencapai 250 mdpl, lereng umumnya landai, dengan sungai berlembah dan berkeolok-kelok. Satuan morfologi dataran dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Satuan morfologi pegunungan merupakan tempat tersedianya bahan hasil letusan Gunung Dempo yang menyebarkan lahar dan lava serta batuan-batuan vulkanis. Daerah Lahat dengan batuan-batuan beku andesitnya telah dipilih menjadi tempat pemukiman. Pemilihan ini tampaknya mempunyai pertimbangan-pertimbangan geografis dan tersedianya batuan untuk megalitik. Keadaan lingkungan di Pasemah merupakan daerah yang sangat subur yang memungkinkan penduduk di sana dapat membudidayakan tanaman.

Temuan Wonosobo

Temuan Wonoboyo adalah sebuah penemuan arkeologi penting berupa artefak emas dan perak yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 era Kerajaan Medang (Kerajaan Mataram Kuno), Jawa Tengah, Indonesia. Peninggalan bersejarah ini ditemukan pada 17 Oktober 1990 di dusun Plosokuning, desa Wonoboyo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tak jauh dari kompleks Candi Prambanan.

Penemuan


 Pada tanggal 17 Oktober, sebidang lahan sawah milik Ny. Cipto Suwarno tengah digali oleh Witomoharjo dan lima orang rekan kerja lainnya. Pengalian ini dimaksudkan sebagai proyek irigasi untuk merendahkan permukaan sawah agar air dapat turun ke sawah ini, sementara itu tanah sisa galiannya akan dijual untuk tanah urukan proyek. Ketika penggalian mencapai kedalaman 2,5 meter, cangkul Witomoharjo membentur benda keras yang diduga batu. Setelah digali dengan hati-hati ternyata ditemukan sebuah guci besar keramik China yang didalamnya tersimpan banyak artefak emas. Penemuan ini segera disampaikan kepada aparat desa dan akhirnya berita penemuan ini sampai kepada Ditjen Pendidikan dan Kebudayaan.

Harta karun

Berat total harta karun ini adalah is 16,9 kilogram yang terdiri dari 14,9 kilogram emas dan 2 kilogram perak. Temuan ini terdiri dari:
  • Sebuah bokor gembung berukir adegan Ramayana
  • Sebuah baskom berukir adegan Ramayana
  • 6 tutup bokor
  • 3 gayung
  • Sebuah baki
  • 97 gelang
  • 22 mangkuk kecil
  • Sebuah pipa rokok
  • Sebuah guci besar Dinasti Tang sebagai wadah 
  • 2 buah guci kecil
  • 11 cincin emas
  • 7 piring
  • 8 subang emas
  • Sebuah tas tangan dari emas
  • Sebuah gagang keris atau mungkin hiasan pucuk payung dari emas
  • Manik-manik
  • Beberapa uang logam emas berbentuk seperti biji jagung
Kini temuan Wonoboyo disimpan di ruang khazanah Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Sementara replikanya dipamerkan di Museum Prambanan, kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta. Temuan Wonoboyo pernah dipamerkan di Australia. Temuan Wonoboyo adalah salah satu temuan arkeologi terpenting di Indonesia. Selain nilai tinggi logam mulia emas dan perak, temuan ini juga penting untuk mengungkapkan kekayaan, ekonomi, serta pencapaian seni budaya pada masa Kerajaan Medang di abad ke-9. Temuan emas ini menampilkan kesenian yang halus serta memamerkan keahlian teknik dan pencapaian estetika pandai emas Jawa kuno. Pada permukaan koin emas terukir huruf "ta", singkatan dari "tail" atau "tahil" unit mata uang Jawa kuno. Ditemukan juga tulisan "Saragi Diah Bunga" dalam bahasa Kawi, yang mungkin adalah nama pemiliknya. Temuan ini diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Raja Balitung (899–911). Benda mewah seperti ini diduga milik bangsawan atau anggota keluarga raja.

Kamis, 23 Juni 2011

Midas, Raja dalam Mitologi Yunani

Midas (bahasa Yunani: Μίδας) adalah salah seorang raja dalam mitologi Yunani. Dia adalah figur yang terkenal karena kemampuannya untuk mengubah semua yang ia sentuh menjadi emas. Kemampuannya disebut sebagai sentuhan Emas atau sentuhan Midas. Dalam alkimia, transmutasi benda menjadi emas disebut chrysopoeia. Dia memiliki beberapa kemiripan dengan Mita, raja Mushki di Anatolia Barat pada akhir abad kedelapan SM.

Silsilah

 Ada beberapa versi berbeda mengenai kehidupan Midas. Dalam salah satunya, Midas adalah seorang raja di Pessinos, satu kota di Frigia. Ketika masih kanak-kanak, dia diadopsi oleh raja Gordias dan dewi Kibele. Menurut beberapa pendapat, Kibele memang ibu Midas. Beebrapa pendapat menceritakan Midas menjalani masa muda di Bermion, Makedonia. Di Mygdonia, Thrakia, Midas terkenal akan kebun mawarnya. Di kebun ini, menurut orang Makedonia, Silenos ditangkap. Menurut Homeros, Midas memiliki seorang putra bernama Litierses, namun dalam versi lainnya dia memiliki seorang putri bernama Zoi. Arrian memberi cerita alternatif mengenai kehidupan Midas. Menurutnya, Midas adalah putra Gordios, seorang petani miskin, dan seorang perempuan Telmissos. Ketika Midas tumbuh dewasa, rakyat Frigia sedang menderita perang saudara. Menurut orakel, akan datang sebuah kereta yang membawa raja yang akan mengakhiri perselisihan di antara rakyat Frigia. Ketika mereka sedang membahasnya, Midas tiba mengendarai kereta bersama orang tuanya. Rakyat Frigia merasa bahwa Midas adalah orang yang dimaksud oleh orakel. Midas pun diangkat menjadi raja Frigia. Sesuai ramalan, Midas berhasil mengakhiri perselisihan di antara bangsa Frigia. Midas juga menyimpan kereta ayahnya di kuil sebagai rasa syukur pada Zeus. Menurut legenda, siapapun yang bisa melepas ikatan pada kereta tersebut akan menjadi penguasa Asia. Di kemudian hari, Aleksander Agung berhasil melepas ikatan tersebut.

Dalam Mitologi

Sentuhan emas

Suatu hari, dewa Bacchus menyadari bahwa gurunya, Silenos, telah menghilang. Silenos adalah seorang satir yang sudah tua. Dia mabuk dan berjalan tak tentu arah, sampai akhirnya Silenos ditemukan oleh sekumpulan petani Frigia, yang membawanya pada raja Midas. Dalam versi lainnya, Silenos lewat di depan kebun mawar Midas. Ada juga pendapat bahwa Midas dengan sengaja menangkap Silenos secara diam-diam. Midas mengenali Silenos dan menjamunya dengan ramah. Midas memberi hiburan pada Silenos selama sepuluh hari sembilan malam. Dan Silenos mengibur Midas dan teman-temannya dengan cerita dan lagu.
Pada hari kesebelas, Midas membawa Silenos kembali pada Bacchus di Lydia. Atas kebaikannya, Bacchus pun memberikan Midas satu permintaan. Midas meminta supaya semua yang disentuhnya menjadi emas. Bacchus mengabulkan permintaan Midas.
Midas sangat senang dengan kemampuan barunya. Dia menyentuh pohon dan batu, yang langsung berubah menjadi emas. Dia lalu pulang ke istananya untuk makan. Namun makanan dan minumannya pun berubah menjadi emas akibat sentuhannya. Bahkan anak perempuannya dia sentuh dan berubah menjadi emas.
Kini Midas menyesali kemampuannya itu. Dia berdoa pada Bacchus untuk menghilangkan kemampuannya dan menjadikannya seperti semula. Bacchus mendengar doanya dan menyuruh Midas untuk mencuci tangannya di sungai Paktolos.
Midas menuruti kata-kata Bacchus, dan begitu tangannya menyentuh air, kekuatannya ikut terbawa oleh aliran air. Tangan Midas kembali normal dan pasir sungai Paktolos menjadi berwarna emas. Mitos ini menjelaskan mengapa sungai Paktolos kaya akan emas. Dinasti kaya yang mengklaim Midas sebagai leluhurnya juga menggunakan mitos ini untuk menjelaskan asal-usul kekayaannya. Emas kemungkinan bukan satu-satunya sumber kekayaan Midas. Dia juga dipercaya menemukan timah putih dan hitam. 

Telinga keledai


Midas, yang kini kaya raya, menjadi pengikut Pan, satir dan dewa hutan. Ada pendapat bahwa Midas juga memiliki darah satir dalam tubuhnya. Beberapa mitografer Romawi menyatakan bahwa guru musiknya adalah Orfeus. Suatu hari, Pan berani menyamakan kemampuan musiknya dengan Apollo, dewa musik. Pan menantang Apollo dalam sebuah kontes musik. Tmolos, dewa gunung, ditunjuk sebagai jurinya. Kontes dimulai, dan Pan meniup pipanya dengan melodi pedesaan yang memukau dirinya sendiri serta para pengikutnya, termasuk Midas, yang juga menyaksikan kontes tersebut.

Kemudian tiba giliran Apollo. Sang dewa memetik senar-senar pada liranya dan membuai para pendengar dengan musik yang mengagumkan. Tmolos langsung menyatakan Apollo sebagai pemenangnya. Semua yang hadir setuju dengan keputusan tersebut, kecuali satu orang, yaitu Midas. Midas tidak terima dengan keputusan tersebut dan memprotes jurinya.
Apollo marah atas protes Midas dan menghukumnya. Apollo mengubah telinganya menjadi telinga keledai. Mitos ini digambarkan dalam dua lukisan, "Apollo and Marsyas" oleh Palma il Giovane (1544–1628), masing-masing menggambarkan kejadian sebelum dan sesudah hukuman tersebut. Midas merasa sangat malu atas perubahan telinganya. Dia mencoba menyembuyikan telinga keledainya dengan cara memakai turban atau tutup kepala yang besar. Namun suatu hari Midas cukur rambut sehingga tukang cukurnya mengetahui bahwa rajanya memiliki telinga keledai. Midas menyuruh tukang cukur itu untuk tutup mulut dengan ancaman hukuman. Akan tetapi, sang tukang cukur tetap tak bisa menjaga rahasia itu. Dia menggali tanah, membisikkan rahasia telinga Midas ke dalam lubang itu, dan menutupnya lagi. Lama-kelamaan, tumbuhan muncul di atas tanah tersebut dan mulai menyebarkan suara yang berbunyi, "Raja Midas memiliki telinga keledai". Sarah Morris menyatakan bahwa telinga keledai merupakan atribut Zaman Perunggu. Telinga keledai terlihat dipakai oleh raja King Tarkondemos di Mira, seperti diperlihatkan dalam tulisan Hittite dan hieroglif Luwian: dalam keterkaitan ini, mitos tersebut muncul di bangsa Yunani untuk memebenarkan atribut yang eksotis ini. Dalam legenda pra-Islam di Asia Tengah, raja Ossounes di sungai Yenisei memiliki telinga keledai. Dia berusaha menyembunyikan telinganya dan memerintahkan setiap tukang cukurnya dibunuh. Namun ada satu tukang cukur yang sempat membisikkan rahasia sang raja pada sebuah tembok setelah matahari terbenam. Dia tidak menutup tembok itu setelahnya. Air sumur naik dan membanjiri kerajaan, menciptakan Danau Issyk-Kul.